Hai perkenalkan.
Namaku wanita, hobby ku kegeeran. Makanan favoriteku harapan palsu.
Belum apa-apa hatiku sudah bergetar bak dialiri aliran listrik 300W, langsung mengambil kesimpulan bahwa dia menyukai ku. Wanita, kami berpikir menggunakan hati bukan logika. Karena kami terlalu banyak menggunakan hati dalam berbagai kesempatan,maka hati kami mudah hancur jika tersentuh dengan suatu hal yang menurut kami itu tidak masuk akal dan menyakiti hati kami. Kami mudah mengeluarkan air mata, kami bersedih semua syaraf seakan-akan terhubung dengan mata ini. Tetesan air mata pun membajiri wajah kami.
Masalah yang sering kami hadapi adalah bagaimana mengungkapkan perasaan yang selalu menggebu-gebu dihati kami. Kami tidak bisa mengungkapkannya, tapi kami bisa merasakannya. Kami bisa membuatnya ada, tapi kami tidak pernah bisa membuatnya menjadi kenyataan. Kami selalu terhalang dengan 'gengsi' yang kami milikki. Gengsi yang kami milikki melebihi tingginya high heels yang kami gunakan. Kami selalu berfikir wanita itu tidak mungkin menyatakan perasaannya didepan pria yang dia cintai. Kami selalu memegang teguh prinsip bahwa Hanya Prialah yang berhak untuk menyatakan perasaannya "terlebih dahulu". Prinsip itu sudah melekat pada diri wanita. Sehingga jangan heran jika zaman sekarang wanita banyak yang mengeluh tentang kisah cintanya di dunia maya. Seperti Facebook,Twitter,Heello dll tentang perasaannya yang tidak sempat terbalas oleh seorang pria yang dia sukai. Terkadang,kami memang terlalu cepat mengambil keputusan. Seorang yang perhatian belum tentu menyukai kita, itu tandanya mereka perduli terhadap keberadaan kita.
Tapi terkadang kami tidak bisa membedakan mana pria yang tulus mencintai dan mana yang hanya memberi harapan kosong. Kadang pria yang justru sungguh-sungguh mencintai kami, kami malah tidak menganggap keberadaan mereka. Bukan kami tidak menghargainya, tapi kami terlalu sibuk mencari seorang yang lain. Kami tersadar akan keberadaan mereka begitu mereka pergi menghilang dari kehidupan kami. Penyesalan pun datang bersamaan.
Refika Dwiputri
Jumat, 16 Maret 2012
Jumat, 09 Maret 2012
Yang Lalu Biarlah Berlalu.
Seperti yang kamu liat di judul posting aku ini.
Yang lalu biarlah berlalu. Tapi, jika yang lalu masih belum bisa berlalu? bagaimana dengan nasib diriku? nasib hatiku?
Kamu,
Bagaikan matahari yang selalu menyinari dan menuntun ku di pagi hari menuju hari yang cerah.
Bagaikan karang yang tahan walau diterjang ombak.
Mungkin semua kata-kata itu terlalu indah jika ku menyadari bahwa sekarang kau mati rasa berkat kelakuanku.
Rintik-rintik hujan ini mengingatkanku bagaimana rasa itu bisa terjadi di benakku. Sayang, aku terlalu lama untuk menyadari semua itu. Aku terlalu lama untuk memilah. Aku terlalu takut untuk meyakinkan hatiku bahwa kamulah yang bisa ku percaya sepenuh hati. Aku terlalu lama berdiskusi dengan hatiku tentang dirimu, aku terlambat.
Banyak yang bilang, kesempatan kedua itu ga akan muncul. Tapi aku yakin, kalau kita masih bisa bertemu dikesempatan kedua. Entah kapan terjadinya, tapi satu yang harus kau tau. Hati ini sudah yakin dengan dirimu. Aku ga akan memaksa kamu untuk menyukaiku tuk yang (kedua kalinya) . Aku hanya ingin kau tau, hati ini sudah yakin dengan dirimu. Tak perlu ku ragukan lagi sosokmu.
Sekarang, semua keputusan ada ditanganmu. Akankah kita berlanjut? Atau cukup sampai disini?
Hal terbaik yang bisa kau lakukan adalah melupakanku. Bukan melupakan kenangan kita.
Hal terbaik yang bisa ku lakukan adalah meyakinkanmu tuk tidak melupakanku, dan merangkai kisah baru tentang "kita."
Langganan:
Postingan (Atom)